Puisi, Eksotika Sejarah Kota Lama Semarang

Pendidikan —Senin, 20 Sep 2021 12:28
    Bagikan  
Puisi, Eksotika Sejarah Kota Lama Semarang
Puisi, Eksotika Sejarah Kota Lama Semarang/Pinterest

BALI, DEPOSTBALI

Oleh: Amir Machmud Ns


Sebuah puisi saya nukil dari antologi Siapkan Pakaian Putihku yang siap saya terbitkan. Betapa ekspresi bersajak seperti meronta setiap kali saya berjalan melewati sudut-sudut Kota Lama di Semarang.

Kombinasi antara eksotika sejarah dalam wujud bangunan-bangunan tua, wajah-wajah ceria manusia, dan tatapan kagum meningkahi aneka ungkapan perasaan manusia yang mengunjungi salah satu situs pariwisata unggulan di Ibu Kota Jawa Tengah itu.

Inilah puisi itu,

KOTA LAMA, SETIAP HARI

Baca juga: Resep Dimsum Nori Lezat Anti Gagal

Baca juga: Bali United Bermain Dengan Tempo Tinggi, Bali United Kalah Jumlah Pemain


// bertabur cahaya di kota tua. Setiap hari/ tak berbatas segmen usia / berebut riuh ruang masa. Mereka menyorongkan kamera/ mendokumentasikan lembar lama/ dalam tuangan kisah hari ini

// berpendar mata di Kota Lama/ menatap sejarah yang disegarkan/ cahaya menyaksi makna




// ponsel pintarmu mengumpulkan waktu/ noktah-noktah yang menyatukan/ perjalanan hari ini. Lalu esok/ dalam hitam-putih masa lalu...//
(2020)

Kini, destinasi pariwisata unggulan Kota Semarang itu menjadi salah satu “jujugan” di antara Kelenteng Sam Poo Kong, Lawangsewu, dan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). Selama lima tahun teraskhir ini, pengembangan substansial berupa penataan kawasan dan penambahan fasilitas makin menjadikan Kota Lama seperti gadis gaul yang bersolek elok.


Kebijakan Wali Kota Hendrar Prihadi yang menerapkan car free pada malam-malam dan hari libur di kawasan tersebut, seakan-akan memberi jeda napas kepada Kota Lama dari deru mesin kendaraan. Ruap cahaya bagai berpendar ceria, memberi tambahan nuansa gebyar kawasan tersebut. Wisatawan yang datang pun makin nyaman untuk menikmati detail demi detail eksotikanya.


Baca juga: Ini Dia Keindahan Alam yang Ada Dibali, Kalian Wajib Datang Kesini!

Baca juga: Indonesia Rasa Korea?! Ini Dia Tempat Wisata yang Wajib Kalian Kunjungi


Selama beberapa tahun terakhir, pemolesan dan penataan kawasan tersebut diakselerasi. Kogta Lama menjadi makin cantik dan bersih. Siapa pun yang berwisata ke Semarang, sudah pasti akan membuat rute penikmatan kota antara lain dengan mengunjungi Kota Lama.
Saat ini, penataaan lain di gang-gang kecil kiri-kanan yang membelah sejumlah titik di di kawasan Kota Lama juga dilakukan. Itu merupakan bagian dari rencana yang sedang dikebut, yakni menata jalan di gang-gang di kiri kanan jalan utama Kota Lama.
Memang keseimbangan keasrian dan kenyamanan itu perlu, karena “zona Kota Lama” tentu bakal menjadi lebih menarik apabila diperluas, memberi peluang pengusaha kuliner dan suvenir khas, di samping atraksi-atraksi kesenian yang mewarnai kesibukan di sana.

Khusus suvenir khas Semarang, apalagi yang merupakan semacam merchandise, belum tampak menjadi salah satu kekuatan ikon yang diburu para pengunjung. Misalnya ikon-ikon Semarang seperti warak, kaos, topi, jaket, juga bentuk-bentuk suvenir hiasan lainnya. Makin populer kawasan ini, dan makin banyak yang datang, aspek merchandise ini makin perlu untuk diketengahkan.

Arbat di Rusia
Dua tahun silam, pada Agustus 2019, bersama rombongan promosi Pemprov Jawa Tengah, saya berkesempatan mengunjungi Kota Lama Arbat di Moskwa, Rusia. Kunjungan itu saya tuangkan dalam sebuah reportase. Kesimpulan saya, Kota Lama Semarang memiliki sejumlah kemiripan “bentuk” dan “wajah” dengan Stary Arbat.
Arbat menjadi “ancient city” yang eksotik, elok, dan nyaman. Di kawasan ini, hanya sepeda onthel yang diizinkan menjadi kendaraan untuk berlalu lalang dari spot ke spot. Sementara itu, motor dan mobil parkir di tempat khusus.


Baca juga: Resep Makanan Enak, Cara Membuat Bakwan Udang yang Krispi

Baca juga: Resep Minuman, Cara Membuat Coklat Dingin Dengan Bahan yang Mudah Didapat


Jalanan Arbat memanjang sekitar 1,5 kilometer. Di Kota Lama Semarang, jalan membujur sekitar 500 meter, mulai dari pintu timur di perempatan Karangdoro hingga pintu barat di Jembatan Berok.
Seperti di Arbat, saya bayangkan Kota Lama Semarang akan diwarnai pernak-pernik karya seni dan atraksi-atraksi hiburan yang menandai titik demi titik kawasan. Para seniman menggelar atraks…


Editor: Putri
    Bagikan  

Berita Terkait