Sketsa Rasa, Puisi Candi, Hidup dalam Luapan Cinta

Pendidikan —Selasa, 31 Aug 2021 21:48
    Bagikan  
Sketsa Rasa, Puisi Candi, Hidup dalam Luapan Cinta
Sketsa Rasa, Puisi Candi, Hidup dalam Luapan Cinta/unsplash

Oleh: Amir Machmud NS


LUAP KATA RAKAI PIKATAN

LUAP KATA PRAMODYAWARDHANI

masih kaupercayakah cinta
yang kadang tiba-tiba membadai
meluluhlantakkan rasa
tapi tak jarang pula menciptakan
prahara kesementaraan?

Rakai Pikatan mengurai luap kata hati
ia yakin ada cinta

tetap kauyakinikah rasa
yang dari detik ke detik mengajak bicara
menjerumuskan dalam kilau cahaya
lalu tiba-tiba menikung semaunya
menuju ruang yang berbeda
dengan cahaya yang tak pula sama?

Baca juga: Salesman Hebat (parts 5), Kemampuan Yang Wajib Dikuasai

Baca juga: Kota yang Memiliki Julukan Sebagai Kota Terdingin di Indonesia Ternyata Terletak di Papua


berderai hati Pramodyawardhani
dalam rinai bahasa pujangga

: masih kita pedulikankah cinta?
semembahana apa pun ketika tiba
bukankah kadangkala ia hanya ruam
yang menerpa lalu enyah entah ke mana

tapi aku dan kau, Rani Pramodya
berani menepis kesan kelam cinta
menjadikannya cahaya
untuk Hindu dan Buddha
: karena kita memercayainya.
(2021)


KITA MAMPU HIDUP DALAM BEDA

suara-suara itu menyiksa sukma
jerit bersahutan di pelataran perang
darah menyimbah
amarah menyibak waktu
dendam pun tersusun makin dalam

candi-candi menepis beda jiwa
karena wangsa hanya mengusung jemawa
pembenaran tentang dinasti
justifikasi tentang hak berkuasa
tanpa peduli ia tak pantas
tanpa peduli ia ditertawakan dalam diam
tanpa peduli ia dihujat juga dalam diam

Baca juga: Rekomendasi 5 Drama Korea yang Akan Tayang Pada Bulan September

Baca juga: 8 Ways to Cultivate Freshwater Lobsters Properly

ada yang prihatin
di pojok kekuasaan
diam-diam ia menggerakkan
revolusi mata batin
: lupakanlah wangsa
dan ada yang lebih besar
ia cinta
dan ada yang lebih lembut
ia cinta

berhenti, hentikanlah pertikaian
Candi Plaosan siap berkisah
ikhlas menjadi penanda
dan kita mampu hidup dalam beda.
(2021)


-- Dua puisi di atas dinukil dari antologi "Dari Peradaban Gunadarma" yang sedang disiapkan sebagai logi kedua "Percakapan dengan Candi" (2021). Di antara puisi-puisi anggitannya, Amir Machmud NS mengkhususkan diri pada eksotika penziarahan mahakarya bangsa candi-candi di Jawa Tengah.

Editor: Putri
    Bagikan  

Berita Terkait